Gerakan pengendalian hama Penggerek
Buah Kakao (PBK) di Kalimantan Timur
Dengan dukungan dana APBD telah dilakukan gerakan pengendalian
hama Penggerek Buah Kakao (PBK) seluas 2.045 ha dari 6.238 ha
areal terserang atau ± 33 %. Teknik pengendalian yang
digunakan adalah teknik penyelubungan buah muda (sarungisasi).
Kembali
ke atas
|
|
|
Penanggulangan
eksplosi hama kelapa Sexava sp di Sulawesi Utara
Penanggulangan eksplosi hama kelapa Sexava sp. di
Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara dilakukan melalui
Gerakan Masal Pengendalian yang dimotori oleh Pemerintah Daerah
yang didasari oleh Instruksi Bupati Kepulauan Talaud. Teknik
pengendalian dilakukan secara mekanis, fisik, penggunaan agens
hayati Leefmansia bicolor dan kultur teknis, serta menggiatkan
peremajaan tanaman kelapa melalui gerakan SEPULUH-SATU.
Kembali
ke atas
|
|
|
Pengendalian
hama Pleisispa sp di Kalimantan Barat
Pengendalian hama Pleisispa sp di Kabupaten Pontianak
Provinsi Kalimantan Barat dilakukan melalui Gerakan Masal Pengendalian
seluas 525 ha [19.890 pohon] yang tersebar di 34 desa dari target
pengendalian 475 ha atau 28,3 % melebihi target. Teknik yang
digunakan adalah mekanis, fisik dan kimiawi, dan hasilnya memperlihatkan
adanya penurunan intensitas serangan 5% sampai 10 % dalam waktu
1 sampai 2 bulan setelah pengendalian. Kegiatan ini akan dilanjutkan
tahun 2005, dan disertai dengan pengembangan dan penyebaran
agens hayati Tetrastichus brontispae untuk menstabilkan
populasi Pleisispa sp.
Kembali
ke atas
|
|
|
Serangan hama kutu
daun di Nusa Tenggara Timur
Serangan hama kutu daun kelapa Aspidiotus destructor
dan Aleurodicus destructor (foto di samping) di Provinsi
Nusa Tenggara Timur mencapai luas 813 Ha dan telah dikendalikan
seluas 780 Ha dengan cara injeksi insektisida sistemik [Marshall
200 EC]. Setelah populasi hama Aspidiotus sp. menurun
pengendalian dilanjutkan dengan menggunakan musuh alami Chilocorus
sp. Dinas Perkebunan Provinsi NTT bekerjasama dengan Fakultas
Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana) pada bulan Mei s.d.
November 2004 melakukan evaluasi efektivitas pengendalian yang
dilakukan baik secara kimiawi maupun secara hayati (menggunakan
Chilocorus politus) terhadap kutu perisai (Aspidiotus
destructor) dan kutu kapuk (Aleurodicus destructor)
yang menyerang pertanaman kelapa. Hasil penelitian di Kabupaten
Ngada, Ende, Sikka, Alor, Timor Tengah Utara (TTU), Timor Tengah
Selatan (TTS), Kupang, Sumba Timur dan Kabupaten Sumba Barat
menunjukkan bahwa pelaksanaan pengendalian hama kelapa baik
kutu perisai maupun kutu kapuk telah berhasil.
Kembali
ke atas
|
|
 |
|
|
|
|
Serangan
hama kelapa Aspidiotus sp
Serangan hama kelapa Aspidiotus destructor di Kabupaten
Maluku Tenggara, Maluku mencapai 185.350 pohon. Serangan tersebut
telah dikendalikan sejak tahun 2003 dengan dana APBD II dan
ABT APBN, dan dilanjutkan oleh pemerintah daerah dengan dana
APBD II pada tahun 2004. Pengendalian dilakukan dengan teknik
injeksi batang menggunakan insektisida sistemik Marshal 200
EC. Saat ini populasi hama Aspidiotus destructor telah mulai
menurun dan direncanakan pemerintah daerah bersama BPTP Ambon,
telah memulai langkah untuk penyebaran musuh alami Chilocorus
sp. yang diintroduksi dari propinsi NTT.
Kembali
ke atas
|
|
 |
Penanggulangan
eksplosi kelapa Sexava sp. dan hama PBK di Maluku Utara
Provinsi Maluku Utara. Penanggulangan eksplosi hama kelapa Sexava
sp. dan hama Penggerek Buah Kakao di Maluku Utara, dilakukan melalui
Gerakan Masal Pengendalian yang dimotori oleh Pemerintah Daerah.
Gerakan Masal ini dicanangkan oleh Gubernur Maluku Utara dan merupakan
bagian dari program kerja 100 hari Dinas Pertanian dan Ketahanan
Pangan Daerah Provinsi Maluku Utara. Tujuan dari pencanangan gerakan
masal adalah agar petani pemilik lahan perkebunan khususnya kelapa
dan kakao, terdorong untuk melaksanakan pengendalian OPT pada
tanamannya secara mandiri. Teknik yang digunakan untuk pengendalian
hama Sexava sp adalah dengan pelepasan parasit Leefmansia bicolor
serta pembersihan dan pembakaran lahan di bawah pohon kelapa.
Sedangkan untuk pengendalian hama Penggerek Buah Kakao dilakukan
dengan teknik penyelubungan (sarungisasi) buah muda yamg berukuran
8 – 12 cm.
Kembali
ke atas
|
|
|
Kembali
ke Halaman Depan |
|